Perubahan Enthalpi

Entalpi = H = Kalor reaksi pada tekanan tetap = Qp
Perubahan entalpi adalah perubahan energi yang menyertai peristiwa perubahan kimia pada tekanan tetap.

a. Pemutusan ikatan membutuhkan energi (= endoterm)
Contoh: H 2 → 2H – a kJ ; DH= +akJ
b. Pembentukan ikatan memberikan energi (= eksoterm)
Contoh: 2H → H 2 + a kJ ; DH = -a kJ

Istilah yang digunakan pada perubahan enthalpi :

1. Entalpi Pembentakan Standar ( DHf ):
DH untak membentuk 1 mol persenyawaan langsung dari unsur-unsurnya yang diukur pada 298 K dan tekanan 1 atm. 

Contoh: H 2 (g) + 1/2 O 2 (g) → H 2 0 (l) ; DHf = -285.85 kJ

2. Entalpi Penguraian:
DH dari penguraian 1 mol persenyawaan langsung menjadi unsur-unsurnya (= Kebalikan dari DH pembentukan). 

Contoh: H 2 O (l) → H 2 (g) + 1/2 O 2 (g) ; DH = +285.85 kJ

3. Entalpi Pembakaran Standar ( DHc ):
DH untuk membakar 1 mol persenyawaan dengan O 2 dari udara yang diukur pada 298 K dan tekanan 1 atm. 

Contoh: CH 4 (g) + 2O 2 (g) → CO 2 (g) + 2H 2 O(l) ; DHc = -802 kJ

4. Entalpi Reaksi:
DH dari suatu persamaan reaksi di mana zat-zat yang terdapat dalam persamaan reaksi dinyatakan dalam satuan mol dan koefisien-koefisien persamaan reaksi bulat sederhana. 

Contoh: 2Al + 3H 2 SO 4 → Al 2 (SO 4 ) 3 + 3H 2 ; DH = -1468 kJ

5. Entalpi Netralisasi:
DH yang dihasilkan (selalu eksoterm) pada reaksi penetralan asam atau basa. 

Contoh: NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl(aq) + H 2 O(l) ; DH = -890.4 kJ/mol

6. Hukum Lavoisier-Laplace
“Jumlah kalor yang dilepaskan pada pembentukan 1 mol zat dari unsur-unsurya = jumlah kalor yang diperlukan untuk menguraikan zat tersebut menjadi unsur-unsur pembentuknya.”
Artinya : Apabila reaksi dibalik maka tanda kalor yang terbentuk juga dibalik dari positif menjadi negatif atau sebaliknya 

Contoh:
N 2 (g) + 3H 2 (g) → 2NH 3 (g) ; DH = – 112 kJ
2NH 3 (g) → N 2 (g) + 3H 2 (g) ; DH = + 112 kJ

Enthalpi pembentukan, pembakaran dan penguraian

Data termokimia pada umumnya ditetapkan pada suhu 25 0 C dan tekanan 1 atm yang selanjutnya disebut kondisi standar . Perubahan entalpi yang diukur pada suhu 25 0 C dan tekanan 1 atm disebut perubahan entalpi standar dan dinyatakan dengan lambang Δ H 0 atau ΔH298. Sedangkan perubahan entalpi yang pengukurannya tidak merujuk kondisi pengukurannya dinyatakan dengan lambang ΔH saja.

Entalpi molar adalah perubahan entalpi reaksi yang dikaitkan dengan kuantitas zat yang terlibat dalam reaksi. Dalam termokimia dikenal berbagai macam entalpi molar, seperti entalpi pembentukan, entalpi penguraian, dan entalpi pembakaran.

Entalpi Pembentukan

Ada suatu macam persamaan termokimia yang penting yang berhubungan dengan pembentukan satu mol senyawa dari unsurunsurnya. Perubahan entalpi yang berhubungan dengan reaksi ini disebut panas pembentukan atau entalpi pembentukan yang diberi simbol ΔH f . Misalnya persamaan termokimia untuk pembentukan air dan uap air pada 100 0 C dan 1 atm masing-masing.

Bagaimana dapat kita gunakan persamaan ini untuk mendapatkan panas penguapan dari air? Yang jelas persamaan (1) harus kita balik, lalu dijumlahkan dengan persamaan (2). Jangan lupa untuk mengubah tanda ΔH. (Jika pembentukan H 2 O (l) eksoterm, seperti dicerminkan oleh ΔH f yang negatif, proses kebalikannya haruslah endoterm) yang berarti eksoterm menjadi positif yang berarti menjadi endoterm.

Panas Reaksi dan Termokimia

Hubungan sistem dengan lingkungan Pelajaran mengenai panas reaksi dinamakan termokimia yang merupakan bagian dari cabang ilmu pengetahuan yang lebih besar yaitu termodinamika. Sebelum pembicaraan mengenai prisip termokimia ini kita lanjutkan, akan dibuat dulu definisi dari beberapa istilah. Salah satu dari istilah yang akan dipakai adalah sistim. Sistim adalah sebagian dari alam semesta yang sedang kita pelajari. Mungkin saja misalnya suatu reaksi kimia yang terjadi dalam suatu gelas kimia. Di luar sistim adalah lingkungan. Dalam menerangkan suatu sistim, kita harus memperinci sifat-sifatnya secara tepat. Diberikan suhunya, tekanan, jumlah mol dari tiap zat dan berupa cairan, padat atau gas. Setelah semua variabel ini ditentukan berarti semua sifat-sifat sistim sudah pasti, berarti kita telah menggambarkan keadaan dari sistim.

Bila perubahan terjadi pada sebuah sistim maka dikatakan bahwa sistim bergerak dari keadaan satu ke keadaan yang lain. Bila sistim diisolasi dari lingkungan sehingga tak ada panas yang dapat mengalir maka perubahan yang terjadi di dalam sistim adalah perubahan adiabatik. Selama ada perubahan adiabatik, maka suhu dari sistim akan menggeser, bila reaksinya eksotermik akan naik sedangkan bila reaksinya endotermik akan turun. Bila sistim tak diisolasi dari lingkungannya, maka panas akan mengalir antara keduanya, maka bila terjadi reaksi, suhu dari sistim dapat dibuat tetap. Perubahan yang terjadi pada temperatur tetap dinamakan perubahan isotermik. Telah dikatakan, bila terjadi reaksi eksotermik atau endotermik maka pada zat-zat kimia yang terlibat akan terjadi perubahan energi potensial. Panas reaksi yang kita ukur akan sama dengan perubahan energi potensial ini. Mulai sekarang kita akan menggunakan perubahan ini dalam beberapa kuantitas sehingga perlu ditegakkan beberapa peraturan untuk menyatakan perubahan secara umum.

Simbol Δ (huruf Yunani untuk delta) umumnya dipakai untuk menyatakan perubahan kuantitas. Misalnya perubahan suhu dapat ditulis dengan ΔT, dimana T menunjukkan

temperatur. Dalam praktek biasanya dalam menunjukkan perubahan adalah dengan cara mengurangi temperatur akhir dengan temperatur mula-mula.

ΔT = T akhir – T mula-mula

Demikian juga, perubahan energi potensial

(Ep) Δ(E.P) = EP akhir – EP awal

Dari definisi ini didapat suatu kesepakatan dalam tanda aljabar untuk perubahan eksoterm dan endoterm. Dalam perubahan eksotermik, energi potensial dari hasil reaksi lebih rendah dari energi potensial pereaksi berarti EP akhir lebih rendah dari EP mula-mula . Sehingga harga ÷EP mempunyai harga negatif. Kebalikannya dengan reaksi endoterm, dimana harga ÷EP adalah positif.

Reaksi Eksoterm dan Endoterm

Reaksi Eksoterm

Pada reaksi eksoterm terjadi perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan atau pada reaksi tersebut dikeluarkan panas. Pada reaksi eksoterm harga ΔH = negatif ( – )

Contoh :

C(s) + O 2 (g) → CO 2 (g) + 393.5 kJ ;

ΔH = -393.5 kJ

Reaksi Endoterm

Pada reaksi terjadi perpindahan kalor dari lingkungan ke sistem atau pada reaksi tersebut dibutuhkan panas. Pada reaksi endoterm harga ΔH = positif ( + )

Contoh :

CaCO 3(s) → CaO (s) + CO 2(g) – 178.5 kJ ; ΔH = +178.5 kJ

Entalpi Pembakaran

Reaksi suatu zat dengan oksigen disebut reaksi pembakaran . Zat yang mudah terbakar adalah unsur karbon, hidrogen, belerang, dan berbagai senyawa dari unsur tersebut. Pembakaran dikatakan sempurna apabila karbon (c) terbakar menjadi CO2, hidrogen (H) terbakar menjadi H2O, belerang (S) terbakar menjadi SO2.

Perubahan entalpi pada pembakaran sempurna 1 mol suatu zat yang diukur pada 298 K, 1 atm disebut entalpi pembakaran standar (standard enthalpy of combustion), yang dinyatakan dengan Δ Hc 0 . Entalpi pembakaran juga dinyatakan dalam kJ mol -1 .

Pembakaran bensin adalah suatu proses eksoterm. Apabila bensin dianggap terdiri atas isooktana, C8H18 (salah satu komponen bensin) tentukanlah jumlah kalor yang dibebaskan pada pembakaran 1 liter bensin. Diketahui entalpi pembakaran isooktana = -5460 kJ mol -1 dan massa jenis isooktan = 0,7 kg L -1 (H = 1; C =12).

Jawab:
Entalpi pembakaran isooktana yaitu – 5460 kJ mol -1 . Massa 1 liter bensin = 1 liter x 0,7 kg L-1 = 0,7 kg = 700 gram . Mol isooktana = 700 gram/114 gram mol -1 = 6,14 mol. Jadi kalor yang dibebaskan pada pembakaran 1 liter bensin adalah: 6,14 mol x 5460 kJ mol -1 = 33524,4 kJ.

Pembakaran sempurna dan tidak sempurna

Pembakaran bahan bakar dalam mesin kendaraan atau dalam industri tidak terbakar sempurna. Pembakaran sempurna senyawa hidro karbon (bahan bakar fosil) membentuk karbon dioksida dan uap air. Sedangkan pembakaran tak sempurna membentuk karbon monoksida dan uap air. Misalnya:

a. Pembakaran sempurna isooktana:

C8H18 (l) +12 ½ O2 (g) –> 8 CO2 (g) + 9 H2O (g) ΔH = -5460 kJ

b. Pembakaran tak sempurna isooktana:

C8H18 (l) + 8 ½ O2 (g) -> 8 CO (g) + 9 H2O (g) ΔH = -2924,4 kJ

Dampak Pembakaran tak Sempurna

Sebagaimana terlihat pada contoh di atas, pembakaran tak sempurna menghasilkan lebih sedikit kalor. Jadi, pembakaran tak sempurna mengurangi efisiensi bahan bakar. kerugian lain dari pembakaran tak sempurna adalah dihasilkannya gas karbon monoksida (CO), yang bersifat racun. Oleh karena itu, pembakaran tak sempurna akan mencemari udara.

Enthalpi penguraian

Reaksi penguraian adalah kebalikan dari reaksi pembentukan. Oleh karena itu, sesuai dengan azas kekekalan energi, nilai entalpi penguraian sama dengan entalpi pembentukannya, tetapi tandanya berlawanan.

Contoh:

Diketahui Δ Hf 0 H2O (l) = -286 kJ mol -1, maka entalpi penguraian H2O (l) menjadi gas hidrogen dan gas oksigen adalah + 286 kJ mol -1

H2O (l) ——> H2 (g) + ½ O2 (g) ΔH = + 286 kJ

Cara merubah Sampah Menjadi Energi Listrik

Cara merubah Sampah Menjadi Energi Listrik

Sampah memang menjadi masalah di kota – besar di seluruh dunia. Khususnya di indonesia seperti menumpuknya sampah dijalan – jalan protokol kota bandung. Belum lagi konflik antara pemerintah dengan warga masyarakat yang lokasinya menjadi tempat pembuangan akhir (TPA).

Di negara negara maju seperti Denmark, Swis, Amerika dan Prancis. Mereka telah memaksimalkan proses pengolahan sampah. Tidak hanya mengatasi bau busuk saja tapi sudah merobah sampah – sampah ini menjadi energi listrik. Khusus di Denmark 54 % sampah di robah menjadi energi listrik.

Teknologi pengolahan sampah ini untuk menjadi energi listrik pada prinsinya sangat sederhana sekali yaitu:

* Sampah di bakar sehingga menghasilkan panas (proses konversi thermal)
* Panas dari hasil pembakaran dimanfaatkan untuk merubah air menjadi uap dengan bantuan boiler
* Uap bertekanan tinggi digunakan untuk memutar bilah turbin
* Turbin dihubungkan ke generator dengan bantuan poros
* Generator menghasilkan listrik dan listrik dialirkan kerumah – rumah atau ke pabrik.

Proses Konversi Thermal

Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi, pirolisa, dan gasifikasi. Insinerasi pada dasarnya ialah proses oksidasi bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat antara bahan organik dengan oksigen.

Pembangkit listrik tenaga sampah yang banyak digunakan saat ini menggunakan proses insenerasi salah satu contohnya adalah lihat diagram disampaing

Sampah dibongkar dari truk pengakut sampah dan diumpankan ke inserator. Didalam inserator sampah dibakar. Panas yang dihasilkan dari hasil pembakaran digunakan untuk merubah air menjadi uap bertekanan tinggi. Uap dari boiler langsung ke turbin Sisa pembakaran seperti debu diproses lebih lanjut agar tidak mencemari lingkungan

(trukmengangkut sisa proses pembakaran).

Teknologi pengolahan sampah ini memang lebih menguntungkan dari pembangkit listrik lainnya. Sebagai ilustrasi : 100.000 ton sampah sebanding dengan 10.000 ton batu bara. Selain mengatasi masalah polusi bisa juga untuk menghasilkan energi berbahan bahan bakar gratis juga bisa menghemat devisa.

Listrik Tenaga Angin

Listrik Tenaga Angin

Ketersediaan energi listrik saat ini sudah menjadi masalah nasional, yang dalam kenyataan lapangan masih ditemukan desa atau masyarakat belum menikmati terangnya listrik. Namun sisi lain kapasitas daya sudah melampaui ambang batas maksimal.

Diperlukan langkah proaktip dalam hal pencarian sumber-sumber energi baru, bukan oleh pemerintah atau lembaga yang mengurusinya akan tetapi oleh masyakarakat yang dikelola oleh masyarakat untuk masyakarakat. Salah satu sumber energi yang selama ini terabaikan adalah Tenaga Angin yang tersedia dari alam dan kita dapatkan secara gratiss.

Bila kita menghitung secara kasat mata potensi energi listrik yang bisa dihasilkan Indonesia dapat katakan terbesar se-Asia.Ini adalah perhitungan “eye estimate” dengan jumlah pulah sekian puluh ribu dan sekian ratus ribu kilo meter garis pantai itulah ladang energi angin yang dijamin tak kan bayar dan tak ada habisnya.

Pemanfaatan tenaga angin dapat dilakukan di desa-desa pantai, dengan bermodal barang bekas listrik 500 watt dapat dihasilkan oleh tiap rumahtangga dengan mudah. Caranya menggunakan kipas bekas pendingin radiator sebagai kincir angin dapat menggerakan dinamo listrik kemudian masuk sebagai charger batrey atau accu, atau bisa juga menggunakan step up transformator sebagai penstabil tegangan out put sehingga dapat menghasilkan tegangan konstan 220 V seabagi sumber penerangan dan alat rumahtangga seperti TV, kulkas, Strika , Pompa air dsb.

Itu hanya sebuah ilustrasi pemanfaatan tenaga angin sebagai pembangkit listrik untuk rumahtangga dalam kapasitas kecil dan dengan bahan barang bekas yang murah.

Kemudian apabila kita menghitung sebuah potensi energi listrik dari tenaga angin untuk ukuran modal besar, korporasi atau lembaga resmi dengan target ratusan ribu mega watt itu sangat dimungkinkan.

Gula Sebagai Katalis Proses Produksi Biodisel

Peneliti-peneliti dari Jepang berhasil menemukan bahwa gula dapat dipergunakan sebagai katalisator dalam proses produksi biodiesel. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam majalah ilmiah terkemuka Nature edisi 438 tanggal 10 November 2005. Dalam penelitian tersebut terlebih dahulu dilakukan pirolisa gula pada suhu di atas 300 derajat Celsius untuk membentuk struktur karbonasi yang tidak sempurna, kemudian ditambahkan gugus sulfonat, dan akhirnya terbentuk struktur lembar karbon polisiklis aromatik berisikan gugus sulfonat. Senyawa inilah yang dijadikan katalis dalam produksi biodiesel. Dengan penemuan ini produksi biodiesel melalui proses transesterifikasi menjadi relatif lebih hemat biaya produksi.

Proses Transesterifikasi dan Produksi Biodiesel

Produksi biodiesel dari tumbuhan yang umum dilaksanakan yaitu melalui proses yang disebut dengan transesterifikasi. Transesterifikasi yaitu proses kimiawi yang mempertukarkan grup alkoksi pada senyawa ester dengan alkohol. Untuk mempercepat reaksi ini diperlukan bantuan katalisator berupa asam atau basa. Asam mengkatalisis reaksi dengan mendonorkan proton yang dimilikinya kepada grup alkoksi sehingga lebih reaktif.

Pada tanaman penghasil minyak, cukup banyak terkandung asam lemak. Secara kimiawi, asam lemak ini merupakan senyawa gliserida. Pada proses transesterifikasi senyawa gliserida ini dipecah menjadi monomer senyawa ester dan gliserol, dengan penambahan alkohol dalam jumlah yang banyak dan bantuan katalisator. Senyawa ester, pada tingkat (grade) tertentu inilah yang menjadi biodiesel. Dalam proses transesterifikasi untuk produksi biodiesel dari tumbuhan, biasanya digunakan asam sulfat (H2SO4) sebagai katalisator reaksi kimianya.

Selain proses transesterifikasi, dalam produksi biodiesel juga melalui tahapan : pengempaan jaringan tanaman (misalnya biji) menghasilkan minyak mentah ; pemisahan (separator) fase ester dan gliserin ; serta pemurnian / pencucian senyawa ester untuk menghasilkan grade bahan bakar (biodiesel).
Gula, sebagai Katalisator Produksi Biodiesel, manfaat bagi Indonesia

Meskipun berbagai jenis bahan kimia dianggap cukup berhasil dipergunakan sebagai katalisator dalam proses transesterifikasi untuk produksi biodiesel, akan tetapi bahan-bahan seperti ini dianggap cukup mahal untuk dipergunakan dalam suatu proses produksi berskala besar. Di samping itu, limbah bahan-bahan kimia ini tentunya akan menjadi masalah lingkungan tersendiri.

Penggunaan gula yang telah diubah bentuknya cukup prospektif untuk dipergunakan sebagai katalisator proses transesterifikasi ini. Gula sebagaimana kita ketahui, merupakan senyawa organik yang limbahnya dapat didaur ulang. Selain itu, gula dianggap relatif lebih murah untuk dipergunakan untuk sebuah proses produksi berskala besar, dibandingkan bahan kimia asam sulfat atau asam dan basa lainnya.

Berita hasil penelitian ini tentunya cukup bermanfaat bagi Indonesia. Indonesia melalui koordinasi Menko Kesejahteraan Rakyat, saat ini sedang giat-giatnya mengkampanyekan pengembangan energi terbarukan ‘biodiesel’, terutama dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas). Salah satu BUMN yang cukup mendukung pengembangan biodiesel ini adalah PT. RNI (Rajawali Nusantara Indonesia). Sebagai badan usaha yang mempunyai bidang usaha utama (core business) pada manajemen pabrik gula nasional, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam meningkatkan efisiensi produksi biodiesel, yaitu dengan menggunakan gula sebagai katalisator produksinya.

Air

Air

Misteri seputar air (H2O) sudah sejak lama diungkapkan. Dari waktu ke waktu sejak jaman purba sampai sekarang ini, sudah banyak disingkapkan misteri yang menyelubunginya. Namun demikian manusia terus mencari dan menemukan misteri lainnya yang masih terus menyelimutinya. Pada saat ini telah banyak diungkapkan misterinya. Beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama akan segera kita pelajari bersama. Statement yang menyatakan bahwa :

Hidrogen + Oksigen = Air

Pernyataan diatas menunjukkan bahwa air dibuat dari hidrogen dan oksigen. Tetapi pernyataan sederhana ini sulit menggambarkannya. Agar lebih kreatif pernyataan tersebut dapat dijelaskan melalui persamaan kimia seperti berikut ini :

2H2 + O2 = 2H2O

Penjelasannya adalah dua buah molekul dari gas hidrogen diatomic direaksikan dengan satu molekul dari gas oksigen diatomic akan menghasilkan dua molekul air. Dengan kata lain bahwa perbandingan antara hidrogen dengan oksigen adalah 2 : 1, perbandingan hidrogen dengan air adalah 1:1 dan perbandingan oksigen dengan air adalah 1:2.

Dalam reaksi pembentukan air di atas juga dihasilkan energi yang jumlahnya mendekati 572 kJ. Persamaan di atas dapat kita tambahkan seperti di bawah ini :
2H2 + O2 = 2H2O + ENERGI
Persamaan reaksi di atas dinamakan reaksi eksothermal, yaitu sebuah reaksi di mana dihasilkan panas. Reaksi kimia semacam ini juga dinamakan reaksi pembakaran.
HIDROGEN sebagai bahan bakar ?
Jawabnya adalah : Ya! Hidrogen merupakan bahan bakar yang baik dan bersih karena yang dihasilkan adalah air murni. Energi yang dihasilkan pun sangat besar, apabila tidak dikontrol dapat menimbulkan ledakan yang dahsyat. Ledakan sebagai konsekuensi di luar control tidaklah perlu ditakuti. Karena ada banyak cara untuk menghindari sehingga energi yang dihasilkan dapat dikontrol dengan sangat baik sekali dan tidak membahayakan. Persoalannya adalah bagaimana menghasilkan gas hidrogen dengan mudah dan murah.
Apakah kita dapat membuat hidrogen dari air ?
Sekali lagi jawabnya adalah : Ya! Tentunya dengan reaksi kimia bolak balik yang sama :
2H2O + ENERGI = 2H2 + O2
Pada reaksi di atas dibutuhkan adanya energi untuk mengubah air menjadi hidrogen dan oksigen. Reaksi semacam ini disebut reaksi kimia endothermal. Pasti akan timbul pertanyaan, apabila untuk menghasilkan hidrogen dari air dibutuhkan energi, persoalannya apakah bahan bakar hidrogen (BBH) cukup ekonomis untuk diproduksi secara massal? Justru inilah yang menjadi tantangan kita bersama saat ini untuk segera menemukan cara memproduksi hidrogen dengan cara murah meriah atau ekonomis. Apabila cara ini dapat ditemukan, barulah BBH dapat memberikan kemaslahatan bagi umat manusia.

Salah satu cara untuk mengkonversi air menjadi hidrogen dan oksigen adalah melalui proses elektrolisa yang menggunakan listrik sebagai sumber energinya agar reaksi dapat berjalan. Proses dimaksud dapat digambarkan seperti berikut :

 

Elektrolisa Air

Dalam proses elektrolisa energi listrik yang memecah air menjadi hidrogen dan oksigen terjadi secara terus menerus (lingkaran) sesuai dengan hukum thermodinamika. Pada proses ini diperlukan katalisator untuk menyempurnakan proses reaksinya. Katalisator tidak berubah unsure kimianya karena tidak ikut bereaksi. Gambar berikut menjelaskan arus panas (energi) dimaksud :

reaksi Bolak Balik Senyawa Air

Apakah yang dinamakan katalisator? Katalisator adalah senyawa kimia yang fungsinya mempercepat proses reaksi kimia tetapi tidak ikut mengalami perubahan kimia itu sendiri. Jadi senyawa kimia katalisator tetap tidak berubah sebelum, selama reaksi berlangsung dan sesudahnya tetap seperti semula. Katalisator bebas dari akibat reaksi itu sendiri. Oleh karena itu katalisator dapat terus menerus membantu mempercepat terjadinya reaksi.
Katalisator juga bekerja agar energi yang digunakan dapat ditekan serendah mungkin, dalam kasus elektrolisa air :

2H2O + ENERGI = 2H2 + O2
2H2O + KATALISATOR + ENERGI = 2H2 + O2 + KATALISATOR
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.