Ikan di Samudera Dunia bisa hilang dalam waktu 40 tahun

Para pakar PBB memperingatkan,dunia bisa saja menghadapi kemungkinan mimpi terburuk kehilangan ikan di samudera pada tahun 2050 hal ini dapat dicegah bila mana armada-armada penangkap ikan dikurangi dan stok ikan diberi peluang untuk pulih.

Jika berbagai estimasi yang diterima tim ahli PBB ternyata benar maka kita akan berada di dalam situasi di mana  40 tahun lagi, kita secara efektif akan kehilangan ikan di Samudera Dunia, “papar Papan Sukhdev, ketua prakarsa ekonomi hijau program lingkungan PBB (UNEP).

Sebuah laporan Green Economy yang disiarkan menjelang akhir tahun ini oleh UNEP dan para ahli luar berpendapat bencana ini bisa dihindarkan jika berbagai subsidi kepada armada-armada penangkap ikan dikurangi dan ikan diberi Zona-zona perlindungan sehingga kelak dapat menghasilkan suatu industri yang berkembang subur.

Laporan tadi, yang dibuka ditinjau pada 17 Mei, juga meneliti bagaimana lonjakan besar permintaan global di bidang-bidang penting lain termasuk energi dan air tawar bisa dipenuhi seraya mencegah kehancuran ekologis di seluruh planet ini.

Direktur UNEP Achim Steiner mengatakan dunia “tenggelam ke modal dasar” yang diandalkannya begitupun “institusi-institusi kita,pemerintah kita mampu mengubah arah seperti yang kita lihat dengan adannya sikap luar biasa untuk memikirkan kepentingan.kini saya pikir hampir 30 negara telah melakukan hubungan dengan kami secara langsung, dan terdapat banyak, yang lainya merivisi kebijakan-kebijakan mengenai perekonomian hijau.

Ahli-ahli lingkungan sadar dengan kegagalan pada Maret lalu untuk menggolkan larangan global terhadap perdagangan tuna disebut-sebut terancam punah.

Lobi kuat dari Jepang dan negara-negara lain pengkonsumsi tuna mengalahkan usul itu di konfrensi CITIES mengenai species yang terancam punah di Doha. tapi peringatan UNEP pada 17 Mei adalah bahwa tuna hanya melambangkan suatu bencana jauh lebih luas, yang mengancam menimbulkan kerugian ekonomi dan lingkungan.

Laporan Green Economy itu juga memperkirakan terdapat sekitar 35 juta orang menangkap ikan di seluruh dunia dengan menggunakan 20 juta boat. sekitar  170 juta pekerjaan bergantung secara langsung atau tidak pada sektor tadi, sehingga membawa keseluruhan orang itu bertalian secara finansial dengan 520 juta.

Menurut PBB, 30% dari stok ikan telah ambruk yang artinya mereka menghasilkan kurang 10% dari potensi lamanya, sementara kesehluruhan perikanan berisiko kehabisan hasil tangkapan yang layak secara komersial pada tahun 2050.

Dewasa ini hanya seperempat dari persediaan ikan utamanya species lebih murah dan kurang diminati dianggap dalam jumlah sehat, biangkeladi utamanya menurut laporan UNEP adalah subsidi pemerintah yang merangsang pembuatan armada-armada jauh lebih besar yang memburu ikan berjumlah lebih kecil,tapi cuma melakukan upaya kecil untuk memungkinkan populasi ikan bisa pulih.

Subsidi tahunan sebesar 27 milyar dolar yang diberikan pemerintah kepada perikanan, utamanya di negara-negara kaya, merupakan “hal yang  jahat” menurut Sukhdev, karena seluruh nilai ikan yang ditangkap hanya 85 milyar dolar.

Akibatnya kapasitas armada penangkap ikan kini “50 – 60%” lebih besar dari pada semestinya tegas Sukhdev. menciptakan area-area pelestarian laut untuk memungkinkan ikan betina tumbuh dewasa, yang dengan begitu sangat meningkatkan kesulitan mereka, merupakan satu solusi vital.

Solusi lainya adalah merestruktur armada-armada penangkap ikan dengan lebih memihak pada boat-boat lebih kecil yang bila persediaan ikan pulih akan mampu mendapatkan hasil tangkapan besar.

Perihal Rudyparhusip
be a greatman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: